Tumobui Turut Meriahkan Festifal Monuntul

0
25

TOTABUAN.NEWS, KOTAMOBAGU – Malam pasang lampu pada saat malam ke 27 bulan Ramadhan, atau yang lebih dikenal Monuntul telah menjadi tradisi Masyarakat Bolaang Mongondow Raya (BMR) khususnya di Kotamobagu.

Bahkan, di Kotamobagu, Monuntul dilombakan antar Desa/Kelurahan sejak Dua Tahun terakhir. Hal tersebut guna memeriahkan Bulan Ramadhan serta menjaga tradisi monuntul agar tetap terpelihara turun temurun.

Menurut Pejabat Semantara (Pjs) Walikota Kotamobagu Muhammad Rudi Mokoginta, festifal monuntul merupakan kegiatan tradisi sejak dahulu kala di Bolaang Mongondow.

“Ini merupakan tradisi turun temurun, sebagai tanda segera masuknya bulan Syawal atau Idul Fitri setelah melakukan puasa selama sebulan penuh,” ujar Rudi, Selasa (11/06/2018) lalu.

Walikota meceritakan sejarah, munculnya tradisi Monuntul di Kotamobagu.

“Sejak jaman dahulu daerah Bolmong Raya ini masih dalam kedaan gelap gulita, maka sebagai tanda mendekati lebaran idul fitri masyarakat berinisiatif menerangi halaman dengan memasang tuntul selama 3 hari penuh pada malam hari,” ujar Walikota.

Kegiatan Monuntul bukanlah bagian dari perintah keagamaan melainkan tradisi turun-temurun masyarakat Bolaang Mongondow.

“Ini sudah menjadi tradisi turun-temurun oleh para orang tua kita yang terdahulu. Sebagai bagian dari tradisi tentunya kita akan terus melestarikannya, jelas Walikota”

Sampai dengan saat ini, di setiap tahunnya, tradisi tersebut mulai berkembang hingga berkelanjutan.

“Maka untuk melestarikan tradisi ini, Pemkot Kotamobagu mulai menggulir Festival Monuntul yang mana kegiatan ini akan dilombakan di setiap Desa dan Kelurahan yang ada di Kotamobagu,” tambahnya.

Tak hanya itu, festifal Monuntul di Kotamobagu turut dimeriahkan oleh Umat Kristiani yang berada di Kelurahan Tumobui Kecamatan Kotamobagu Timur.

Ketua Panitia Monuntul Kelurahan Tumobui Claudia Rondonuwu, itu adalah bentuk toleransi untuk menjaga kesatuan dan persatuan antar umar beragama di Kotamobagu.

“Sebagai Tradisi, tentunya kami bagian dari Kotamobagu dan BMR pada umumnya turut barpartisipasi dan memeriah bulan Ramadhan ini, sebagai bentuk toleransi, menjaga persatuan dan persaudaraan antar umat bergama di Kotamobagu,” ujarnya

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kotamobagu, Moh. Agung Adati juga mengatakan, festival religi Monuntul dapat berpotensi menyedot wisatawan luar daerah Kotamobagu.

“Nah, ini yang harus dilestarikan, festival monuntul adalah tradisi turun temurun. Tentunya jika dilombakan, maka akan ada inovasi-inovasi menarik dan kreatif di tiap Desa/Kelurahan yang mampu menyedot banyak wisatawan lokal maupun luar Kota,” singkatnya.

Peliput: Neno Karlina

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.