TNews, JAKARTA — Diskusi serius mengenai masa depan media di Asia Tenggara mengisi ruang konferensi ASEAN Media Forum (AMF) ke-9 yang digelar di Kuala Lumpur, Kamis (6/11). Di tengah situasi geopolitik yang kian dinamis, para jurnalis, pejabat ASEAN, dan perwakilan lembaga internasional membahas bagaimana media dapat memainkan peran strategis dalam membangun kepercayaan publik dan melawan disinformasi.
Sekretaris Jenderal ASEAN, Dr. Kao Kim Hourn, membuka forum dengan nada optimistis. Ia menekankan bahwa sejak pertama kali digelar, AMF menjadi jembatan penting antara media dan para pengambil kebijakan di Asia Tenggara.
“Media bukan hanya penyampai berita, tapi juga bagian dari proses diplomasi publik ASEAN. Kita masih menghadapi tantangan seperti isu Myanmar, hubungan lintas batas, serta transformasi ekonomi digital,” ujarnya di hadapan peserta dari seluruh negara anggota.
Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif, isu tentang kebebasan pers dan tanggung jawab media digital mendapat sorotan. Sejumlah wartawan peserta forum, termasuk dari Indonesia, menyoroti kesenjangan informasi dan pentingnya kolaborasi lintas negara untuk melawan misinformasi yang sering memecah belah masyarakat.
Selain menjadi ajang dialog, AMF juga menjadi wadah bagi media untuk menilai sejauh mana ASEAN membuka diri terhadap transparansi informasi di tengah tekanan geopolitik global.
Tahun depan, Filipina dijadwalkan menjadi tuan rumah AMF ke-10, melanjutkan tradisi forum tahunan yang pertama kali digelar pada 2017.*
Peliput: Agung






