TNews, KOTA BENGKULU — Kerusakan pada akses utama menuju Pelabuhan Pulau Baai kembali menjadi buah bibir. Lubang-lubang menganga dan permukaan jalan yang amblas memanjang seperti tak lagi mampu menyembunyikan beban yang dipikulnya saban hari. Di tengah lalu lintas truk batu bara yang tak pernah benar-benar jeda, perhatian publik pun mengerucut pada satu nama: PT Pelindo Bengkulu.
Ruas yang berada paling dekat dengan kawasan operasional Pelindo tampak menjadi titik letupan paling parah. Di sinilah truk-truk raksasa, membawa tonase melampaui batas, bergerak keluar–masuk tanpa henti. Jejaknya terlihat jelas: retakan panjang, badan jalan bergelombang, hingga insiden truk terbalik yang berulang.
Bagi warga Teluk Sepang yang saban hari melewati jalur ini, pemandangan itu bukan lagi kejutan. “Truk batu bara lewatnya ya di depan Pelindo. Jalan jadi hancur terus. Kami yang lewat tiap hari, tapi masyarakat yang menanggung risikonya,” ujar seorang warga yang ditemui Media di lokasi. Sabtu (22/11/2025)
Para sopir truk mengakui hal serupa. Mereka menyebut kawasan yang berada dalam pengaruh Pelindo itu sebagai titik paling rawan. Permukaan jalan yang labil kerap membuat kendaraan berat oleng, apalagi saat membawa muatan penuh.
Desakan publik pun menguat. Pelindo, sebagai pengelola kawasan pelabuhan, dianggap tak bisa sepenuhnya menepikan diri dari persoalan. Masyarakat menilai perusahaan pelat merah itu memiliki tanggung jawab moral untuk mendorong percepatan penanganan jalan, terlebih arus truk batu bara menuju pelabuhan menjadi salah satu pemicu utama kerusakan yang berulang.
Harapan warga sederhana: Pelindo tidak hanya menjadi lintasan, tetapi turut aktif berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lain agar perbaikan dilakukan segera dan tidak sekadar tambal-sulam.
Sementara itu Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Bengkulu mengakui persoalan ini bukan perkara mudah. Dengan anggaran yang cekak, pemerintah provinsi berencana mengusulkan perbaikan ke kementerian terkait.
“Di antaranya ruas jalan Pondok Kelapa sampai Pulau Baai, karena ruas ini rata-rata digunakan kendaraan dengan muatan berlebih,” kata Kepala Dinas PUPR Bengkulu, Tejo Suroso, Rabu, 8 Mei 2024.
Pemerintah bahkan tengah mempertimbangkan pembangunan jalan rigid, konstruksi beton ala jalan tol di sepanjang jalur tersebut. Menurut Tejo, rigid bisa bertahan hingga satu dekade, sementara aspal tak bertahan lebih dari setahun jika terus dilindas kendaraan bermuatan melampaui batas.
Namun selama koordinasi masih terputus-putus dan langkah nyata belum tampak, warga telanjur khawatir: akses vital menuju pelabuhan itu hanya akan semakin rusak dan pada akhirnya menunggu korban berikutnya.*
Peliput: Freddy Watania






