TNews, PAKUE — Di sudut Desa Sipakainge, Kecamatan Pakue, berdiri sebuah rumah kecil berukuran sekitar 9 x 6 meter. Lantainya masih berupa tanah, sementara atap seng bekas tampak menua dimakan waktu. Di rumah itulah Enal (56) bersama istri dan lima anaknya bertahan hidup selama hampir dua dekade.
Kepada wartawan Totabuan News, Sabtu (27/12/2025), Enal mengaku telah pasrah dengan kondisi tempat tinggalnya yang jauh dari kata layak. Ia menyebut, sejak mulai menempati rumah tersebut pada tahun 2007, nyaris tak ada perubahan berarti.
“Saya sudah tinggal di sini lebih dari 20 tahun. Dari dulu sampai sekarang keadaannya masih begini, tidak pernah ada perhatian,” ujar Enal lirih.

Atap rumah yang digunakan Enal diketahui merupakan seng bekas milik sepupu istrinya dari Desa Seuwwa. Saat hujan turun, air kerap merembes masuk ke dalam rumah. Kondisi itu semakin berat karena lantai tanah menjadi becek dan lembap, terutama saat musim hujan berkepanjangan.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Enal bekerja serabutan sebagai buruh panjat kelapa. Penghasilan yang tidak menentu membuatnya sulit memperbaiki rumah secara mandiri. Meski demikian, ia mengaku telah berulang kali didata dan namanya dicatat sebagai calon penerima bantuan bedah rumah.
“Katanya sudah masuk daftar, tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” tuturnya.
Harapan Enal sederhana: perhatian dan uluran tangan dari pemerintah setempat agar keluarganya dapat tinggal di rumah yang lebih layak dan aman. Namun hingga kini, harapan itu masih menggantung tanpa kepastian.*
Peliput: Syahrum







