Konferensi Internasional IAIH Pancor Soroti Ketahanan Sosial di Era Disrupsi Teknologi

oleh -191 Dilihat
Gambar: Para pemateri dan peserta konferensi mengikuti sesi diskusi International Conference on Social Humanities 2025 di Ruang Rapat IAIH Pancor, Kamis, 11 Desember 2025. Foto: Dokumentasi IAIH Pancor.

TNews, LOMBOK TIMUR — Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor menggelar konferensi internasional yang menyoroti perubahan sosial dan tantangan kemanusiaan di tengah lajunya perkembangan teknologi. Kegiatan bertajuk International Conference on Social Humanities 2025 itu berlangsung di Ruang Rapat IAIH Pancor, Kamis, 11 Desember 2025.

Ketua panitia, Daeng Sani Ferdiansyah, membuka jalannya konferensi dengan menyinggung betapa cepatnya dinamika sosial berubah. Menurutnya, forum ilmiah semacam ini menjadi ruang penting untuk membaca ulang persoalan masyarakat yang kini semakin kompleks.

“Berbagai problem sosial terus bermunculan. Melalui diskusi dan penelitian, kita ingin menemukan pemahaman baru agar kondisi sosial bisa diperbaiki,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor IAIH Pancor, Dr. TGB M. Zainul Majdi, MA., menilai tema konferensi—Resilience and Harmony: Navigating Social Change, Humanities and Da’wa—sangat relevan dengan realitas kehidupan masyarakat yang sedang mengalami perubahan cepat. Ia membandingkan tantangan dakwah hari ini dengan pengalamannya dua dekade lalu ketika pulang dari Kairo.

“Audiens sekarang jauh lebih kritis. Banyak hal yang dulu dianggap pasti, kini justru dipertanyakan,” katanya.

TGB Majdi juga menyebut perubahan pola pertanyaan jamaah sebagai tanda bahwa masyarakat semakin terpapar isu global, bukan lagi terbatas pada persoalan-persoalan lokal sehari-hari.

Salah satu narasumber internasional, Dekan FMKK Universitas Islam Selangor Malaysia, Dr. Juzlinda Moh Ghazali, mengulas peran kecerdasan buatan (AI) dalam membentuk pola kehidupan umat. Ia menilai teknologi bukan hanya membawa kemudahan, tetapi juga tantangan besar terhadap nilai moral dan struktur sosial.

“Kita mengonsumsi lebih banyak informasi, tetapi menyerap lebih sedikit kebijaksanaan. Secara digital kita semakin terhubung, tetapi secara emosional semakin renggang,” ujarnya.

Dr. Juzlinda menyoroti tingginya adopsi teknologi digital di kalangan muda Muslim—yang jumlahnya mencapai 60 persen dari total populasi. Namun tingginya akses itu diiringi risiko seperti penyebaran informasi keliru, lemahnya etika penggunaan AI, dan kesenjangan teknologi.

“Generasi muda ini kreatif, tetapi juga rentan terhadap manipulasi digital. Kita tak boleh hanya menjadi pengguna teknologi; kita harus menjadi pengendali dan penjaga etikanya,” tegasnya.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *