Bitung Menuju Poros Logistik Dunia, Strategi Besar Yulius Selvanus Membangun Indonesia Timur

oleh -99 Dilihat
Gubernur Sulut Yulius Selvanus dalam FGD (Foto : Ist)

TNews, Manado Sulawesi Utara – Akselerasi transformasi ekonomi di kawasan Timur Indonesia kini memasuki babak baru. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) secara resmi memperkuat komitmennya untuk menjadikan Sulawesi Utara, khususnya Pelabuhan Bitung, sebagai Global Logistics Hub. Langkah strategis ini dibahas secara mendalam dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Transformasi Sulampua Menuju Global Logistics Hub untuk Penguatan Efisiensi dan Daya Saing Logistik Kawasan Indonesia Timur” yang digelar di Aula GKN Manado, Senin (19/01/2026)

Hadir dalam forum krusial tersebut, Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus bersama Wakil Gubernur Johannes Victor Mailangkay. Acara ini menjadi titik temu para pemangku kepentingan tingkat tinggi, mulai dari Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun, perwakilan Bank Indonesia, pimpinan Ditjen Bea Cukai, hingga para investor dan pelaku usaha logistik lintas negara.

Waliota Bitung Hengky Honandar terlihat hadir dalam FGD (Foto : Ist)

Dalam pidato pembukaannya, Gubernur Yulius Selvanus memaparkan fakta krusial mengenai potensi ekonomi kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua). Kawasan ini merupakan raksasa ekonomi tersembunyi dengan kontribusi ekspor tahunan mencapai USD 25 hingga 30 miliar, atau setara dengan 15–18 persen dari total ekspor nasional.

Meski memiliki angka ekspor yang fantastis, Gubernur menyayangkan fakta bahwa arus logistik dari Timur Indonesia masih harus memutar melalui pelabuhan-pelabuhan di Pulau Jawa. Hal ini mengakibatkan inefisiensi yang sistemik, baik dari sisi waktu maupun biaya operasional bagi para pengusaha.

“Pengembangan layanan direct call (pelayaran langsung) dari Pelabuhan Bitung adalah solusi mutlak. Kita bisa memangkas waktu pengiriman ke negara-negara mitra seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok secara drastis—dari yang biasanya memakan waktu 25–30 hari menjadi hanya 7–10 hari. Ini bukan sekadar angka, tapi efisiensi biaya logistik hingga 20–30 persen,” tegas Yulius Selvanus.

Gubernur menekankan bahwa visi menjadikan Bitung sebagai pusat logistik global bukan hanya tentang kepentingan Sulawesi Utara semata, melainkan kepentingan kolektif seluruh wilayah Sulampua. Ia memproyeksikan Bitung akan menjadi magnet bagi investasi berkualitas tinggi yang nantinya menciptakan ekosistem industri baru.

“Jika Bitung sukses menjadi hub logistik, maka industri pergudangan, pusat distribusi regional, hingga pelabuhan pengumpul (feeder ports) akan tumbuh pesat di seluruh Indonesia Timur. Ini adalah penggerak ekonomi yang akan menciptakan lapangan kerja dan kemakmuran bagi rakyat,” tambahnya.

Duta Besar RI untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun, memberikan perspektif global mengenai posisi strategis Sulawesi Utara. Ia mencatat bahwa nilai perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok telah melonjak tajam lebih dari 236 persen dalam satu dekade terakhir, mencapai USD 148 miliar pada 2024. Bahkan, pada akhir 2025, angka perdagangan diprediksi menembus USD 150 miliar.

Dubes Djauhari menilai pembukaan jalur direct call Bitung–Tiongkok sebagai langkah revolusioner dalam rantai pasok Asia Timur. Sektor investasi Tiongkok di Indonesia, yang mencapai USD 8,1 miliar pada 2024, kini mulai menyasar infrastruktur strategis, industri kimia, farmasi, hingga energi.

“Sulawesi Utara diproyeksikan menjadi Pacific Rim Economic Hub. Sinergi antara Poros Maritim Dunia milik Indonesia dengan Belt and Road Initiative milik Tiongkok akan terwujud melalui skema seperti Two Countries Twin Parks dan Twin Ports. Bitung akan menjadi jalur pertumbuhan, bukan sekadar jalur dagang,” jelas Dubes Djauhari.

Diskusi yang dipandu oleh Kakanwil Bea Cukai Sulbagtara, Erwin Situmorang, bersama Ketua APINDO Sulut, Riko Lieke, berjalan sangat dinamis. Para pelaku usaha, eksportir, dan importir yang hadir memberikan apresiasi tinggi terhadap terobosan Pemprov Sulut.

Mereka menyuarakan harapan agar layanan direct call ini berjalan secara konsisten dan berkelanjutan. Bagi para pengusaha, efisiensi waktu yang ditawarkan pelabuhan Bitung akan meningkatkan daya saing produk Indonesia Timur di pasar internasional secara signifikan.

FGD ini diakhiri dengan kesepahaman bersama bahwa kemajuan Indonesia Timur adalah kunci kemajuan nasional. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, dan mitra internasional, Sulampua kini siap mengambil peran lebih besar dalam konstelasi ekonomi global dan memperkokoh posisi Indonesia di kawasan Asia Pasifik. (mt/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *