TNews, JAMBI— Peran guru mengaji sebagai garda terdepan pendidikan karakter kembali disorot dalam safari dakwah Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Jambi. Dalam kegiatan tersebut, Ustaz H. Yoyok Dwi Sasongko menekankan pentingnya metode pengajaran yang adaptif agar nilai-nilai keislaman dapat diterima generasi muda secara efektif.
Safari dakwah yang berlangsung di Gedung Tri Sukses Boarding School, Kelurahan Wijayapura, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi, Jumat (23/1/2026), diikuti guru mengaji LDII dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Jambi.
Kegiatan ini menjadi ruang dialog sekaligus penguatan kapasitas pendidik nonformal yang selama ini berperan membina anak-anak sejak usia dini.
Di hadapan peserta, Ustaz Yoyok yang merupakan pengurus Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII menilai guru mengaji tidak cukup hanya menguasai materi. Menurutnya, kemampuan memahami karakter anak dan membangun suasana belajar yang menyenangkan menjadi kunci keberhasilan dakwah di tingkat akar rumput.
Ia mengungkapkan, tantangan dakwah hari ini menuntut para pengajar untuk masuk ke dunia anak-anak, mulai dari cara berkomunikasi hingga strategi membuka pelajaran.
“Ketika guru mengaji mampu menghadirkan suasana yang menyenangkan, pesan agama akan lebih mudah melekat,” ujarnya di sela tausyiah.
Lebih jauh, Ustaz Yoyok juga mengingatkan pentingnya keteladanan. Sikap, ucapan, dan cara berinteraksi guru mengaji dinilai memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter santri. Ia menekankan agar pengajian diakhiri dalam suasana positif, disertai rangkuman materi dan doa, sehingga semangat belajar tetap terjaga.
Safari dakwah tersebut turut diisi oleh Ustaz M. Andika Faza, dai asal Jambi yang kini mengajar di Pondok Pesantren Wali Barokah, Kediri, Jawa Timur. Dalam pemaparannya, ia menyoroti aspek niat dalam aktivitas dakwah. Menurutnya, keikhlasan menjadi fondasi utama agar proses mengajar tetap konsisten meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan.
Ia menambahkan, ilmu agama yang diajarkan dengan niat ibadah tidak hanya berdampak pada murid, tetapi juga menjadi amal berkelanjutan bagi pengajarnya. Pesan tersebut disambut antusias peserta yang sebagian besar merupakan guru mengaji aktif di lingkungan masing-masing.*
Peliput: Wanito





