TNews, OPINI – Perbincangan tentang iman dan rasio pada dasarnya adalah perbincangan tentang bagaimana manusia mencapai kebijaksanaan. Apakah kebijaksanaan lahir dari kecerdasan semata, dari iman saja, atau justru dari perpaduan keduanya?
Rasio adalah dasar dari kecerdasan intelektual. Melalui rasio, manusia mampu berpikir logis, menganalisis persoalan, menyusun strategi, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Dalam tradisi filsafat Yunani, seperti yang diajarkan Aristotle, kebijaksanaan dipahami sebagai kemampuan menggunakan akal secara tepat untuk mencapai kebajikan dan keseimbangan hidup. Dalam kerangka ini, orang bijaksana adalah orang yang mampu menimbang secara rasional sebelum bertindak.
Dalam kehidupan nyata, rasio memang sangat penting. Seorang hakim menilai bukti secara objektif sebelum menjatuhkan putusan. Seorang pemimpin menyusun kebijakan berdasarkan data dan analisis dampak. Seorang dokter menentukan terapi berdasarkan penelitian ilmiah.
Di sini kecerdasan menjawab pertanyaan: bagaimana cara terbaik melakukan sesuatu?
Namun realitas zaman modern menunjukkan kecenderungan lain.
Banyak orang mengejar kecerdasan intelektual setinggi mungkin, mengandalkan rasio sebagai satu-satunya ukuran kebenaran, tetapi justru kehilangan kebijaksanaan.
Gelar akademik bertambah, teknologi berkembang pesat, sistem menjadi semakin canggih, tetapi krisis moral, korupsi, ketidakadilan, dan konflik tetap terjadi. Manusia menjadi semakin pintar, tetapi belum tentu semakin bijaksana.
Rasio memiliki batas. Ia bekerja pada hal-hal yang dapat dianalisis dan dibuktikan, tetapi tidak selalu mampu menjawab pertanyaan tentang makna hidup, tujuan akhir, atau dasar moral yang mutlak.
Rasio bisa menjelaskan bagaimana membangun sistem yang kuat, tetapi tidak selalu menjawab apakah sistem itu adil.
Rasio bisa menciptakan teknologi yang hebat, tetapi tidak otomatis menentukan bagaimana teknologi itu digunakan secara benar.
Sumber hikmat dan arah hidup adalah dari dan untuk TUHAN
Di sinilah iman berperan. Dalam Kitab Suci Alkitab ditegaskan bahwa;
“Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat” (Kitab Amsal 9:10).
Ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan sejati tidak hanya berbicara tentang kemampuan berpikir, tetapi tentang arah hidup.
Hikmat TUHAN selalu menentukan karakter dan Integritas manusia
Dalam Surat Yakobus 3:17 digambarkan bahwa hikmat dari atas itu murni, pendamai, penuh belas kasihan, dan tidak memihak. Artinya, kebijaksanaan menyentuh karakter dan integritas.
Iman memberi jawaban atas pertanyaan: untuk apa dan demi siapa keputusan itu diambil?
Seorang pejabat bisa saja menolak suap karena takut hukum, tetapi ia juga bisa menolaknya karena takut akan Tuhan.
Seorang pengusaha bisa saja jujur karena strategi jangka panjang, tetapi ia juga bisa jujur karena keyakinan moral yang tidak dapat ditawar. Seseorang bisa mengampuni demi ketenangan sosial, tetapi juga bisa karena ketaatan iman.
Sepanjang sejarah, hubungan iman dan rasio tidak selalu dipandang bertentangan.
Thomas Aquinas melihat iman dan rasio sebagai dua jalan menuju kebenaran yang sama, karena keduanya berasal dari Tuhan.
Sebaliknya, Immanuel Kant membedakan wilayah rasio yang empiris dengan wilayah iman yang moral. Perdebatan ini menunjukkan bahwa manusia terus mencari titik temu antara akal dan keyakinan.
Dalam praktik kehidupan, perbedaannya menjadi nyata. Dalam krisis politik, rasio mungkin mendorong kompromi demi stabilitas, sementara iman menuntut keteguhan pada kebenaran meski berisiko kehilangan jabatan.
Dalam bisnis, rasio mungkin melihat celah hukum sebagai peluang, sementara iman bertanya apakah hal itu benar secara moral. Dalam konflik pribadi, rasio mungkin berdamai demi reputasi, sementara iman mendorong pengampunan demi kasih.
Kecerdasan tanpa iman dapat menghasilkan keputusan yang efektif tetapi kehilangan arah moral. Sebaliknya, iman tanpa rasio dapat membuat seseorang kurang bijak dalam menghadapi kenyataan praktis.
Kebijaksanaan yang utuh lahir ketika rasio dan iman berjalan bersama. Rasio memberi kemampuan untuk memahami dan merencanakan, sementara iman memberi arah dan makna.
Sebagaimana refleksi Vox Populi VD:
“Kecerdasan membangun peradaban, tetapi kebijaksanaan menentukan arah peradaban itu berjalan.” – Vox Populi VD
Pada akhirnya, kecerdasan membuat seseorang mampu mencapai sesuatu. Namun kebijaksanaan menentukan apakah sesuatu itu benar dan layak untuk dicapai.
Dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cerdas, tetapi pribadi-pribadi yang bijaksana—yang mampu memadukan rasio, iman, dan integritas dalam setiap keputusan hidupnya.
“Rasio membuat manusia mampu berpikir besar, tetapi iman dan kebijaksanaan menjaga agar ia tetap berpijak.” – Vox Populi VD
Penulis: Jurnalis, S1 Teologi (Filsafat), Eksponen Pergerakan Mahasiswa 98






