TNews, SULUT – Langkah mantap Sintya Nindya Christin Bojoh menandai babak baru dalam sejarah dunia pers di Sulawesi Utara. Di tengah dinamika yang kerap didominasi suara laki-laki, ia hadir bukan sekadar sebagai pemenang, tetapi sebagai simbol harapan—bahwa perempuan juga mampu memimpin, menggerakkan, dan menginspirasi.
Momentum itu terjadi dalam Konferensi PWI Sulawesi Utara yang digelar di Aula Kantor Wali Kota Manado, Selasa (31/3/2026). Dalam suasana yang hangat namun penuh dinamika demokrasi, Sintya memperoleh kepercayaan mayoritas dengan 145 suara, mengungguli Merson Simbolon (109 suara) dan Jhon Paransi (4 suara).
Namun, lebih dari sekadar angka, kemenangan ini menyimpan makna yang jauh lebih dalam. Sintya bukan hanya terpilih sebagai ketua—ia menjadi perempuan pertama yang memimpin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Utara sejak organisasi ini berdiri. Sebuah capaian yang membuka jalan bagi lebih banyak perempuan untuk percaya diri menapaki dunia jurnalistik, bahkan hingga ke pucuk kepemimpinan.
Lahir di Tondano pada 22 Desember 1977, Sintya telah lama dikenal sebagai jurnalis televisi yang tangguh. Ia terbiasa berada di garis depan peliputan, menyuarakan berbagai isu strategis—mulai dari pemerintahan, pembangunan daerah, hingga persoalan sosial kemasyarakatan.
Pengalaman panjang itu membentuk kepekaan sekaligus ketegasan yang kini menjadi modal penting dalam memimpin organisasi profesi.
Bagi banyak wartawan perempuan, kehadiran Sintya di kursi ketua bukan hanya representasi, melainkan juga inspirasi. Ia membawa pesan bahwa ruang redaksi bukan batas, melainkan pijakan untuk melangkah lebih jauh. Di tengah tantangan era digital yang kompleks, perspektif perempuan diyakini mampu memperkaya arah kebijakan dan pendekatan organisasi.
Sejumlah wartawan senior pun melihat terpilihnya Sintya sebagai bagian dari regenerasi yang sehat. Dunia pers, yang terus berubah dengan cepat, membutuhkan pemimpin yang adaptif, inklusif, dan berani membuka ruang kolaborasi. Sosok Sintya dinilai mampu menjawab kebutuhan itu.
Harapan kini bertumpu pada kepengurusan PWI Sulut periode 2026–2031. Bukan hanya menjaga profesionalisme dan independensi pers, tetapi juga merawat solidaritas, serta menghadirkan inovasi yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri media.
Di balik kemenangan ini, terselip cerita tentang ketekunan, keberanian, dan keyakinan seorang perempuan yang menembus batas. Dan mungkin, dari sini akan lahir lebih banyak lagi Sintya-Sintya lain—yang tak hanya menulis berita, tetapi juga menciptakan perubahan. (kokon)







