Rumah Ahmad Sahroni Diobrak-abrik Massa

0
27
Gambar: Kekacauan di rumah Ahmad Sahroni pasca-amuk massa yang mengacak-acak segala sesuatu di kediamannya. Sabtu, 30 Agustus 2025. Tanjung Priok, Jakarta Utara. Foto : Petrus.

TNews, JAKARTA – Sabtu, 30 Agustus 2025, menjadi hari yang tak terlupakan bagi politikus NasDem, Ahmad Sahroni. Sebuah video yang merekam puncak amuk massa di kediamannya di Tanjung Priok, Jakarta Utara, kini viral di media sosial, mengungkapkan dampak dari amarah yang tak terkendali. Rumah mewah yang dikenal sebagai ‘Sultan Priok’ itu menjadi saksi dari kerusakan yang luar biasa, dengan puing-puing berserakan di mana-mana.

Dalam rekaman yang sangat memilukan, pemandangan di dalam rumah yang tadinya megah terlihat porak-poranda. Lantai marmer hitam yang semula berkilau kini dipenuhi serpihan kaca, pecahan perabotan, dan sampah yang berserakan. Kehancuran ini disaksikan langsung oleh seorang perekam yang tampak panik saat melihat suasana yang semakin kacau.

“Situasi terkini dari dalam rumah Ahmad Sahroni. Semuanya sudah habis, hancur, diamuk sama massa,” kata suara perekam yang terdengar terkejut. Kamera bergerak cepat, memperlihatkan ruangan yang berantakan: ruang tamu yang dipenuhi debu dan kaca pecah, meja makan yang terguling, dan dapur yang dipenuhi barang-barang yang tersebar tanpa terkendali.

Namun, yang paling menyayat hati adalah hilangnya beberapa barang koleksi pribadi Ahmad Sahroni yang selama ini sering ia tampilkan di media sosial. Salah satunya adalah patung Iron Man yang dikenal sebagai koleksi berharga. “Patung Iron Man sudah berhasil dibawa,” ujar perekam video tersebut. Tak hanya itu, sebuah kostum Spiderman yang tergeletak di lantai menambah ironi dalam situasi ini. Dua simbol superhero yang seharusnya melindungi kebenaran justru menjadi korban dari penjarahan yang tak terkendali.

Selain kerusakan fisik, video ini menggambarkan betapa tak terkendalinya kemarahan massa yang tak hanya merusak, tetapi juga menjarah barang-barang mewah dan pribadi milik Sahroni. Rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan kini berubah menjadi arena amuk, menggambarkan sebuah kenyataan pahit mengenai batas kesabaran publik.*

Peliput: Petrus

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses