‘Amar Alfikar’ Anak Kiai Ini Memilih Jadi Transgender, Ini Ceritanya

0
58839
Amar Alfikar

TNews, VIRAL – Amar Alfikar sempat menjadi perbincangan di Twitter pada Juni lalu setelah berbagi cerita tentang transisinya dari seorang perempuan menjadi pria. Kisahnya sebagai seorang transgender terbilang unik karena ia tumbuh di tengah keluarga pesantren. Ayah Amar seorang kiai, sedangkan ibunya berstatus nyai.

Amar lahir di Kendal, Jawa Tengah, pada 11 April 1991. Terlahir sebagai perempuan, ia dinamai Amalia oleh kedua orang tuanya. Sejak kecil, ‘Amalia’ merasa ada sesuatu yang ganjil dalam dirinya. Jiwa lelakinya lebih dominan.

Setelah pergulatan batin yang panjang, Amar mulai menemukan titik terang tentang jati dirinya saat mendengar wejangan dari seorang kiai.

“Sebetulnya yang menarik dari pengalamanku adalah aku mulai mempertanyakan identitas genderku setelah aku bertemu seorang kiai. Kiai ini sangat berpengaruh dalam prosesku menggali diri,” ungkap Amar saat berbincang dengan Wolipop detikcom baru-baru ini.

“Pada suatu momen, beliau pernah mengatakan bahwa yang Tuhan lihat itu bukan apakah kita laki-laki atau perempuan, tapi yang Tuhan atau Allah lihat adalah ketakwaan kita,” tambah bungsu dari tiga bersaudara ini.

Perlahan-lahan Amar mulai ‘berdamai’ dengan orientasi seksualnya. Namun masih ada satu hal yang membebani pikirannya: coming out atau melela kepada orang tua dan keluarga.

Ia khawatir, ketika mengaku nanti, orang tuanya, yang punya reputasi ‘orang penting’ di lingkungan pesantren di Kendal itu, bakal mengusir atau bahkan tak mengakuinya lagi sebagai anak.

Namun ketakutan tersebut tak terbukti. Ketika Amar membuka diri, orang tuanya mencoba menerima dengan kepala dingin. “Semuanya butuh proses, tapi untungnya orang tuaku tetap menyayangiku. Mungkin kakak-kakakku yang agak lama menerimanya,” kata Amar.

Setelah kepada keluarga, Amar pun mulai berani membuka diri di luar. Ia melepas hijab dan berpakaian selaiknya seorang pria.

Proses transisi terjadi ketika ia sedang menempuh studi sastra Indonesia di sebuah perguruan tinggi negeri di Semarang, Jawa Tengah.

Celaan seperti ‘calon penghuni neraka’ dan perlakuan bullying sudah menjadi makanannya sehari-hari. Ia bahkan pernah dilecehkan secara seksual.

Amar mengaku sudah kebal dengan ejekan orang, tapi ia tak tega ketika melihat kedua orang tuanya juga harus menghadapi konsekuensi dari pilihan hidupnya sebagai seorang transpria.

Diungkapkan Amar, banyak orang yang mempertanyakan wibawa ayah dan ibunya sebagai seorang kiai dan nyai karena membiarkan anak mereka ‘melanggar fitrahnya’. Namun ayahnya selalu punya cara tersendiri untuk memberi pengertian kepada orang-orang tersebut.

“Bapak selalu menggunakan bahasa-bahasa keagamaan yang merangkul, yang toleran, ketika menghadapi pertanyaan seperti itu. Misalnya, ‘Setiap orang punya dosanya masing-masing. Dosa itu kan urusan Tuhan dan memiliki anak seperti ini ujian buat saya sebagai orang tua. Kalau saya tidak bisa menerima anak saya, saya yang gagal sebagai orang tua. Kalau saya menelantarkan anak saya, berarti saya melakukan dosa yang lain karena menyakiti anak sendiri’,” kata Amar menirukan perkataan ayahnya.

Amar bersyukur memiliki orang tua yang toleran dan sangat melindunginya. Di masa transisinya, hubungan Amar dengan kedua orang tua justru semakin erat, terutama dengan sang ibu. Maka, ketika ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, disusul kemudian oleh ibunya, Amar merasa sangat terpukul. “Aku seperti kehilangan akar,” kata dia.

Suatu kali, tak lama setelah ibunya meninggal, Amar membuka ponsel almarhumah. Betapa terharunya dia ketika mengetahui ibunya selama ini menyimpan perbincangan mereka di WhatsApp. Semasa hidup, ibunya memang sering curhat soal suka dan duka hidup kepada Amar. Sebaliknya, Amar sering mengirimkan puisi yang dibuatnya khusus untuk sang ibu.

“Di situ aku melihat bahwa penerimaan beliau luar biasa sekali bahwa cinta ibu itu menjadi seperti… aku semakin menyadari bahwa cinta beliaulah yang membuatku tetap bertahan hingga detik ini, dan tetap berjuang untuk melanjutkan hidup dengan segala keterbatasan yang ada dalam diriku,” ungkap Amar yang mengidolakan sosok Gus Dur itu.

Ibunya bahkan menggunakan ‘Amar Alfikar’ untuk menamai nomor kontak Amar. Bukan ‘Amalia’, nama lahir yang ia berikan untuk anaknya.

 

Sumber: detik.com

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.