Aluang, Tradisi Duka Suku Mongondow

0
429

TNews, KOTAMOBAGU – Aluang atau Kain Kafan, dan atau Kain putih, berukuran satu meter atau lebih, yang dilipat dan dilingkarkan di kepala atau di bagian dada perempuan keluarga duka Suku Mongondow.

Aluang ini adalah penanda duka, sehingga seorang perempuan yang menggunakannya bisa langsung diidentifikasi sebagai keluarga yang berduka.

Biasanya, keluarga yang memiliki ikatan langsung seperti anak, istri, atau orangtua, akan menggunakan Aluang langsung dari sisa kafan yang digunakan mengafani mayat. Semakin jauh ikatan kekeluargaan, atau kekerabatan, Aluang yang digunakan juga berubah. Biasanya adalah kain yang tidak bersentuhan dengan mayat.

Dalam perkembangannya, lama penggunaan Aluang sejak mayat dikebumikan sudah mulai mengalami perubahan. Dahulunya, Aluang digunakan selama 40 hari, sebagai batasan waktu berkabung. Namun, sekarang sudah tidak demikian. Penggunaanya tergantung keluarga. Ada yang masih memakainya selama 40 hari, ada yang hanya 14 hari, ada yang 5-7 hari.

Namun, karena Aluang dianggap hanya sebagai tradisi dan tidak bersentuhan dengan nilai syariet agama (Islam sebagai agama mayoritas di Kotamobagu dan BMR), sehingga ada juga yang memandang tidak perlu untuk menggunakannya.

Neno Karlina

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.