Ini Alasan Kasus Perceraian Banyak Terjadi Selama Pandemi

0
41

TNews, INSPIRATIF – Pandemi corona tak hanya berdampak pada kesehatan manusia, tapi juga kondisi di dalam rumah tangga. Ya Moms, baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan beredarnya video yang merekam antrean mengular pendaftaran perceraian di satu Pengadilan Agama di Bandung. Video tersebut lantas menjadi viral, dikomentari dan dibahas di sosial media maupun berbagai grup percakapan.

Tapi, benarkah angka perceraian di masa pandemi meningkat tajam? Apa penyebabnya?

Menurut Psikolog Klinis Anak, Remaja dan Keluarga, Roslina Verauli M.Psi., Psi ada periode krisis yang perlu dipahami oleh pasangan suami istri di masa-masa awal pernikahan. Seperti saat awal pernikahan, tahun pertama pernikahan, dan saat kelahiran anak pertama.

“Selama pernikahan yang mesti kita tanggapi adalah sebelum menikah, isu yang muncul jadi masalah adalah finansial. Jadi uang menjadi masalah utamanya. Yang kedua adalah tahun pertama pernikahan. Ini sebenarnya tahun-tahun awal untuk kita bisa menyesuaikan diri dengan pasangan dan semua itu kembali lagi pada uang lho. Lalu, ketiga adalah periode saat kelahiran anak pertama,” kata Vera dalam Virtual Talk kumparan: Perceraian di Masa Pandemi, Minggu (6/9).

Namun krisis tersebut tidak menjadi sesuatu yang buruk bila suami. istri mampu melewati masalah tersebut dengan baik. Namun tentu tidak semua pasangan mampu melewatinya, sehingga berujung pada perceraian. Lantas, apa saja masalah utama terjadinya hal itu?

Permasalahan Utama dalam Rumah Tangga yang Bisa Sebabkan Perceraian

Terlalu lama berada di rumah dengan kondisi serba terbatas memang bisa menimbulkan konflik suami istri. Vera mengatakan, periode krisis tersebut, sebenarnya berasal dari masalah dasar yang muncul selama pernikahan. Yang pertama, masalah pembagian peran yang sulit ditentukan antara suami dan istri. Di Indonesia, kata Vera, sulitnya pembagian peran secara jelas di rumah akibat adanya budaya tradisional yang masih dianut oleh masyarakat Indonesia.

“Masyarakat masih meyakini bahwa bila suami bekerja dan istri juga bekerja, namun pada saat menjalankan peran harian tetap dilakukan oleh istri. Padahal ada pekerjaan rumah yang sebenarnya masih bisa dibagi dengan pasangannya. Tapi karena kesetaraan kita belum sempurna, jadi pola tradisionalnya masih kental,” ujarnya.

Selain itu, psikolog yang praktik di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan ini menambahkan, banyak peran wanita seperti mengasuh anak, masalah rumah tangga, masalah emosional dan mental, serta karir membuat peran tersebut menjadi berat dan terkesan tidak adil. Sehingga dampaknya adalah munculnya ketegangan peran antar suami istri.

“Kita harus memahami bahwa peran ini seharusnya dibagi, tapi sayang cara perempuan menghayati dirinya itu cenderung mereka melihat diri mereka dari pengamatan sosial. jadi kemampuan wanita mengasuh anak, mengurus rumah tangga, seolah-olah itu adalah peran perempuan. Tapi itu semua hanya isu gender lho,” paparnya.

Lalu yang kedua adalah, wanita sulit untuk bisa berkomunikasi tentang keluh-kesahnya dengan suami. Sehingga maksud dan tujuan yang diinginkan istri tidak sampai kepada suami. Banyak wanita yang tidak paham bagaimana cara mengomunikasikan pembagian peran tersebut dengan suami, akibatnya timbullah konflik dalam rumah tangga.

Dan yang terakhir adalah manajemen konflik yang tidak sempurna. Adanya ketidakjelasan peran dalam rumah tangga, dan sulitnya berkomunikasi dengan pasangan terkait hal tersebut sampai timbul konflik, bisa jadi karena pasangan suami istri tidak memahami seperti apa manajemen konflik rumah tangga yang baik.

“Jadi pernikahan yang bahagia, pasangan saling mengerti tentang kebutuhan satu sama lain, mampu bercerita dengan pasangan, dan mampu mengendalikan emosi diri sendiri. Apalagi perempuan adalah pusat emosi di rumah. Kalau tiga masalah ini terselesaikan dengan baik di masa pandemi ini, tak perlu berujung ke perceraian,” kata Vera.

Perceraian Masih Bisa Terjadi

Meski begitu, ada beberapa hal yang menjadi tanda bahwa bisa perceraian tidak bisa dihindari. Vera mengatakan kita harus tahu tanda bahaya apa yang muncul dari pernikahan tersebut.

“Kalau pasangan diagnosis memiliki gangguan kesehatan mental, pasangan punya adiksi tertentu, atau karakter yang membuat suami abusif, tidak bertanggung jawab, dan tidak memiliki kemampuan sosial. Sinyal yang paling terlihat adalah ketika kita mengalami disfungsi, sebagai perempuan harkat martabat jadi rusak, gagal untuk menjalankan fungsi sebagai individu, dan tertekan,” tutupnya.

Nah Moms, untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dalam menyelesaikan permasalahan rumah tangga, Anda bisa tonton kembali dalam diskusi Virtual Talk di bawah ini.

 

Sumber: kumparan.com

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.