Video Game, Bully, dan Cara Mendidik Anak

0
2
ilustrasi

TNews, SEHAT – Paparan game seringkali dikhawatirkan dapat mempengaruhi perilaku anak. Hal yang sering ditakutkan adalah jika anak meniru adegan kekerasan yang dilihatnya di game, lalu menumbuhkan tendensi perilaku bullying (perundungan) ke teman-teman di sekitarnya.

Psikolog Anak dan Keluarga, Anna Surti Ariani tidak menampik kekhawatiran ini. Namun pola asuh dari orang tua tetap menjadi hal utama yang mempengaruhi perilaku anak.

“Misalnya orangtua yang sering sekali melakukan pemukulan terhadap anak atau mencelanya, dengan anak ini menjadi korban. Nah di kondisi yang lain anak itu akan menangkap bahwa, ‘Oh ternyata kalau berinteraksi dengan orang lain itu bentuknya tuh atas bawah gitu ya. Selalu ada yang dominan dan selalu ada yang jadi korban,’ gitu. Sehingga daripada dia jadi korban mending dia jadi pelaku dong. Misalnya seperti itu ya,” jelas psikolog yang biasa dipanggil Nina.

Tak hanya itu, orang tua yang tidak melakukan kekerasan pun bisa memunculkan perilaku bully pada anak. Bertindak permisif dan toleran terkadang seperti pisau bermata dua.

“Contohnya adalah ketika pola asuhnya itu sangat permisif gitu jadi anak nih melakukan apa aja boleh gitu ya, anak marah-marahin ART (Asisten Rumah Tangga, red) boleh gitu, terus nggak ada teguran, tidak ada hukuman terhadap anak itu gitu misalnya,” terang Nina.

Anak tetap harus dikontrol supaya tidak bisa bertindak sesuka hati. Orang tua juga sebisa mungkin memberi contoh baik yang bisa ditiru oleh anak-anaknya.

Ketiadaan kontrol terhadap perilaku anak, serta tidak adanya contoh baik untuk perilaku yang lebih baik, menjadikan anak lebih rentan melakukan bullying.

Perihal paparan game, Nina menyarankan orang tua untuk memantau jenis game yang dimainkan anak. Dikhawatirkan, game tersebut menstimulasi hal-hal yang tidak sesuai dengan umur anak.

“Orang tua tuh perlu banget untuk mengecek apakah games yang dimainkan oleh anak dan juga film yang ditonton oleh anaknya apakah memang sesuai dengan usia anak tersebut. Karena kalau misalnya anak kita usianya 5 tahun tapi dia menonton film untuk anak usia sekitar 10 tahun, berarti akan ada hal-hal yang belum bisa betul-betul dipahami oleh anak usia 5 tahun tersebut, sehingga dia rentan untuk misalnya meniru begitu saja ya,” jelas Nina.

 

Sumber : detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.