Debat ‘Canda’ PKS vs PDIP soal Habib Rizieq

0
77
(foto google)

TNews, NASIONAL – PKS versus PDIP sempat panas dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) Komisi III DPR dengan forum ulama dan habaib yang tergabung dalam Ahli Sunnah Waljamaah. Topiknya seputar Habib Rizieq Shihab. Rupanya, perwakilan kedua partai itu tak benar-benar saling adu otot leher.

RDPU Komisi III DPR dan Ahli Sunnah Waljamaah berlangsung di ruang rapat komisi hukum tersebut, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/12/2021). Ahli Sunnah Waljamaah memang mengadukan masalah hukum Habib Rizieq Shihab hingga Munarman. Salah satu tuntutan mereka yakni Habib Rizieq bisa bebas.

Di tengah jalannya rapat, Wakil Ketua Komisi II DPR Aboe Bakar Al-Habsyi dari Fraksi PKS, menyinggung PDIP. Aboe Bakar mulanya menyampaikan pernyataan bahwa PKS mengerti persoalan Habib Rizieq.

“Saya Aboe Bakar dari dapil Kalimantan Selatan I merasa berkepentingan aspirasi ini sebaik-baiknya, bersama para anggota yang lain, bersama para pimpinan, Pak Pangeran, waktu kita atur-atur, bukan kita mengubah-ubah, bukan, karena memang nggak gampang, padat. Alhamdulillah para alim ulama yang saya hormati bisa hadir pada waktu yang tepat dan kawan-kawan bisa hadir,” kata Aboe Bakar dalam rapat.

“Dari apa yang disampaikan saya tidak akan ulang, saya tidak akan setback cerita ini, kita ngerti,” ujarnya.

Meski mengerti, PKS kata Aboe Bakar, tidak memiliki suara lebih banyak ketimbang PDIP.

“Kalau saja PKS kursinya bisa seperti PDI, Pak, suaranya berbeda, saya sampaikan saja, tapi suara kami 50, Pak, kita bisa ngomong apa? Ya Pak Johan Budi ya?” ujar Aboe Bakar.

Anggota Komisi III DPR Fraksi PDIP, Johan Budi merespons Aboe Bakar dengan menyebut apa pun bisa disampaikan dalam RDPU. Lagi-lagi Aboe Bakar menyebut pendapatnya bisa lebih baik jika memiliki suara lebih banyak di DPR.

“Saya kira Habib bisa ngomong apa aja, Pak Habib, ngomong aja nggak apa,” ujar Johan Budi.

“Iya jadi kita bisa ambil keputusan lebih gagah dalam tunjukkan suaranya,” kata Aboe Bakar.

Arteria Dahlan yang ikut rapat lantas menimpali. Arteria heran dengan maksud Aboe Bakar menyinggung PDIP.

“Sebentar, sebentar ini Pak Ketua, kalau PKS suaranya lebih besar dari PDIP katanya bisa buat sesuatunya beda seperti yang sekarang, maksudnya apa ini?” kata Arteria.

“Oh iya pasti, jadi kita bisa…,” kata Aboe Bakar menimpali.

Arteria membalas Aboe Bakar. Dia menegaskan PDIP juga memperjuangkan Habib Rizieq dan kiai lainnya. Aboe Bakar kemudian menyetujui pernyataan Arteria.

“Maksudnya apa yang kurang? Yang kita perjuangkan kepada para kiai dan HRS sudah kita perjuangkan,” katanya.

“Alhamdulillah ternyata keluar (pernyataan) yang saya maksud,” ujar Aboe Bakar menyambut Arteria.

Rapat seketika menjadi panas. Pimpinan rapat saat itu, Pangeran Khairul Saleh dari Fraksi PAN, meminta Arteria memberi kesempatan Aboe Bakar berbicara. Aboe Bakar melanjutkan pernyataannya, dia berharap tuntutan Ahli Sunnah Waljamaah ditindaklanjuti.

“Jadi politik ini, Pak, jangan kaget kalau seperti ini, semua berkepentingan. Tapi, Pak, tuntutan yang Bapak-bapak sampaikan insyaallah kita akan follow up baik, seperti bahasa Arteria yang begitu indah kita dengar semoga menjadi langkah-langkah yang kita lakukan seperti yang dikatakan ke depannya,” katanya.

Cuma Canda

Usai rapat, Johan Budi menjelaskan ketegangan di rapat tersebut. Johan Budi menegaskan itu hanya bercanda, tak bisa disebut sebagai cekcok dengan PKS.

“Ya pertama jangan dianggap cekcok lah, itu bercandaan tadi kan dengan Pak Habib (Aboe Bakar Al-Habsyi),” kata Johan Budi.

“Pak Habib bilang tadi kalau PKS menang bukan PDI Perjuangan mungkin situasinya menjadi berbeda. Itu kan dia bebas ngomong saya sampaikan, Pak Habib bebas aja ngomong, orang cuma ngomong kan bebas-bebas aja. Itu kan bercanda aja,” kata Johan.

Johan menekankan sikap PDIP selama ini juga mendukung penegakan hukum yang berlaku sama terhadap semua pihak. Dia mendukung permintaan para habaib dan ulama agar setiap warga negara sama kedudukannya di mata hukum.

“Loh tadi kan disampaikan bahwa saya, misi yang dibawa ulama dan habaib tadi kan perlu kita dukung, penegakan hukum harus berlaku sama semua gitu loh, di muka hukum itu setiap warga negara sama, itu yang kita dukung,” kata Johan Budi.

Meski demikian, Johan Budi menegaskan DPR tidak bisa mencampuri urusan hukum. “Tapi fungsi DPR tidak bisa intervensi hukum jadi tadi satu permintaannya (Ahli Sunnah Waljamaah) kan membebaskan Habib Rizieq, terus tadi Pak Arsul hampir sama fungsi kita pengawasan karena itu DPR tidak bisa intervensikan,” imbuhnya.

 

Sumber : detik.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.