Pameran Linimasa Prangko Malioboro : Visualisasi Perjalanan Malioboro dari Masa ke Masa

0
67
Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta Ir. Aman Yuriadidjaya memberikan sambutan dalam acara Pameran Linimasa Prangko Malioboro di Hotel Phoenix, Yogyakarta, Selasa (6/6/2023)

TNews, YOGYAKARTA – Pj Walikota Yogyakarta Singgih Raharjo, S.H., M.Ed. membuka kegiatan Pameran Linimasa Prangko bertajuk “Bertemu Malioboro” bertempat di Hotel Phoenix, Selasa (6/6/2023). Pameran ini rencananya akan berlangsung tanggal 6 – 9 Juni 2023. Visualisasi dalam pameran ini bercerita tentang perjalanan Yogyakarta melalui linimasa prangko.

Prangko dipilih sebagai media pameran karena sejak tahun 1950-an Yogyakarta sudah menjadi wajah Indonesia lewat sebuah benda pos. Bersama benda-benda koleksi dari 19 museum di Yogyakarta, dijahitlah sebuah cerita peejalanan Yogyakarta dengan segala keistimewaannya.

“Mengiringi HUT Pemerintah Kota Yogyakarta yang ke-76, ini merupakan momentum yang sangat baik untuk mengangkat kembali dan lebih menduniakan Malioboro sebagai bagian dari Kota Yogyakarta, ” kata Singgih di sela-sela pameran.

Talkshow dengan tema “Malioboro dan Prangko” dengan narasumber Gusti Kanjeng Bendoro Raden Ayu Adipati Paku Alam X, Ir. Ika Putra, M.Eng, Ph.D, R. Krisma Eka Putra dan Dr. Soewarno Wisetrotomo, M.Hum.

“Prangko sangat efektif sebagai sarana promosi, karena prangko tak hanya digunakan untuk media berkirim surat, tetapi juga bisa dijadikan koleksi yang akan melengkapi koleksi prangko di dunia, dan Malioboro dengan magnetnya yang luar biasa bisa menjadikan para kolektor untuk berburu mendapatkan prangko Malioboro ini, “imbuh Singgih.

Dalam sambutannya, Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Ir. Aman Yuriadidjaya, M.M menyampaikan, Malioboro merupakan sebuah media perlintasan kepentingan dan perlintasan banyak dimensi. Malioboro ibarat magnet yang  luar biasa, mengingat kawasan ini sebuah peradaban yang ada dan terus bertumbuh. Karena itu, Pemerintah Kota Yogyakarta berkolaborasi dengan PT Pos serta para pemangku kepentingan mendokumentasikan perjalanan Malioboro dalam sekeping prangko.

Pihaknya juga mengucapkan terima kasih kepada tenaga ahli yang terlibat dalam penyusunan Linimasa Prangko Malioboro serta seniman lukis Astuti Kusuma yang telah menuangkan imajinasinya tentang Malioboro dalam sebuah media kanvas.

Pengguntingan buntal melati oleh Pj Walikota Yogyakarta dan Gusti Kanjeng Bendoro Raden Ayu Adipati Paku Alam X mengakhiri seluruh rangkaian acara Pembukaan Pameran Linimasa Prangko

Sejalan dengan pernyataan Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, S.Sos.,M.M bahwa untuk sampai pada momen hari ini, Pemerintah Kota Yogyakarta telah menggandeng tenaga ahli dari berbagai latar belakang keahlian, baik sejarah, arsitektur urban desain, antropologi maupun seni untuk melakukan penelitian, pengkajian dan diskusi tentang seluk beluk Malioboro sebagai sebuah laboratorium komunal yang melintasi zaman.

“Pameran ini merupakan agenda besar yaitu peringatan HUT Pemerintah Kota Yogyakarta yang ke-76 yang ditandai dengan salah satu momen penting Peluncuran Seri Prangko Malioboro yang diresmikan Rabu (7/6/2023), “tambah Yetti.

Mengawali pembukaan Pameran Linimasa Prangko, diselenggarakan Talkshow dengan tema “Malioboro dan Prangko”. Narasumber yang hadir Gusti Kanjeng Bendoro Raden Ayu Adipati Paku Alam X, Ir. Ika Putra M.Eng, Ph.D, R. Krisma Eka Putra dan Dr. Soewarno Wisetrotomo, M.Hum. Talkshow ini membahas daya tarik Malioboro sebagai sebuah kawasan bersejarah dalam sekeping prangko.

Gusti Kanjeng Bendoro Raden Ayu Adipati Paku Alam X mengapresiasi dan mengisahkan awal kesukaannya mengoleksi prangko ketika masih di bangku sekolah ketika mengikuti ekstrakurikuler Pramuka. Tidak hanya prangko yang dikoleksinya, tapi juga Sampul Hari Pertama prangko dari masa ke masa.

Suasana pameran Malioboro dari masa ke masa

Dr. Suwarno, M.Hum menjelaskan Malioboro pendek dalam ukuran angka tapi panjang dalam memori semua orang. Tahun 1970-an Malioboro menjadi sebuah kenangan lampau, di tahun 1980-an menjelma menjadi sebuah poros ekonomi dan seni budaya yang kemudian meluas di sekitarnya. Tahun 2000-an Malioboro menjelma menjadi ruang wisata baru. Kisah panjang ini diringkas dalam sepotong prangko.

“Melihat fungsi pragmatis prangko, prangko tidak hilang dari praktik kebudayaan. Prangko menjadi penanda kota dan benda komoditas. Dalam selembar prangko Malioboro, dapat disimenasikan historis dalam sebuah benda. Pranfko merupakan pintu masuk untuk menjabarkan narasi dan visual. Meskipun bentuknya kecil, tapi memiliki narasi yang tidak terbatas. Melihat prangko, sejatinya melihat narasi yang sangat panjang, “terang Suwarno.

Seluruh acara Pembukaan Pameran Linimasa Prangko diakhiri dengan pengguntingan buntal melati oleh Pj Walikota Yogyakarta dan Gusti Kanjeng Bendoro Raden Ayu Adipati Paku Alam X dan setelah itu rombongan tamu undangan diajak berkeliling melihat display pameran “Bertemu Malioboro”.

Reporter : Clementine

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.