Dampak Teknologi Informasi Terhadap Gangguan Jiwa

0
332
Ilustrasi
Loading...

TNews, OPINI – Meninjau sejauh apa perkembangan teknologi informasi mampu mengubah cara pandang dan perilaku individu maupun antar individu atau menurut Sanderson dikenal dengan psikologi yakni ilmu yang mempelajari jiwa dan perilaku.

Saat ini, teknologi internet melalui aplikasi mobile mampu membuat kita menundukan kepala beberapa saat bahkan hampir seharian dengan kebiasaan baru yaitu scrolling informasi pada media sosial atau pun bermain online game. Harus diakui bahwa terjadi dampak luar biasa dari kehadiran teknologi informasi dan komunikasi sehingga kondisi psikologis manusia menjadi sangat terpengaruh. Sayangnya, tidak semua manusia telah siap dengan perkembangan dan kemajuan teknologi ini. Banyak dari manusia yang salah menggunakannya bahkan mengganggu kondisi psikologisnya. Hal ini tentu ada yang menyadarinya namun sulit untuk bisa lepas dengan gadget tersebut karena sudah adiksi dan belum menemukan alternatif kegiatan untuk mengalihkan perhatiannya.

Menurut Nicholas Negroponte, pada era penyebaran informasi melalui atom berupa koran, buku atau media konvensional lain telah digantikan oleh bit, yaitu unsur terkecil DNA informasi yang tidak berwarna, tidak memiliki ukuran atau berat dan mampu bergerak dengan kecepatan cahaya berupa digit yang secara sederhana bisa dimaknai sebagai bilangan biner 1 atau 0. Kehadiran teknologi digital inilah yang menjadikan setiap informasi dengan sangat mudah dan cepat menyebar tanpa adanya batasan ruang dan waktu.

Dari perkembangan era digital ini pula, dikenal istilah untuk generasi digital natives. Generasi ini mulai akrab dengan teknologi sejak kecil dan cenderung lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan teman secara online seperti chatting pada media sosial daripada berkomunikasi tatap muka secara langsung. Kebiasaan bangun pagi setiap hari yang langsung memeriksa notifikasi, menjadikan pikiran cenderung tak bisa lepas dari yang namanya gadget dengan aneka fitur di dalamnya. Bagi pengguna teknologi yang adiksi pada internet, terdapat filosofi yang mencerminkan betapa resahnya manusia di zaman ini bila tidak terhubung lewat internet sehingga seolah telah menjadi kebutuhan primer yang harus dipenuhi.

Komputer bahkan telah berkembang menyerupai manusia, misalnya dari berbagai lokasi geografis di bumi dapat diakses dengan mudah dan dihadirkan secara virtual melalui komputer. Hal ini jika diperhatikan dalam waktu yang tidak lama di masa mendatang, kita akan lebih banyak berkomunikasi dengan komputer ketimbang dengan orang lain untuk memenuhi berbagai kebutuhan kita. Menurut Palfrey & Gasser, jika seseorang tidak mampu membatasi diri dalam penggunaan internet, maka dapat menyebabkan adanya ancaman gangguan tingkah laku seperti kecanduan internet, sindrom kejenuhan informasi, dan beban kelebihan informasi yang membuat orang mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan.

Teknologi informasi khususnya media sosial memberikan kebebasan dalam menyebarluaskan kebiasaan dan kegiatan sehari hari para penggunanya seperti update status atau story. Beberapa kebiasaan seperti selfie atau wefie menjadi bukti adanya perubahan perilaku yang tidak hanya terjadi di kalangan remaja saja. Teknologi informasi memang menjadi ruang kreatif bagi penggunanya yang bebas dalam mengekspresikan diri. Namun, perubahan perilaku terhadap penggunaan media sosial yang sudah berlebihan, memiliki keterikatan kuat dengan jiwa penggunanya sehingga secara perlahan atau tidak langsung dapat menimbulkan perilaku kompulsif dan mengganggu pikiran karena dipengaruhi keinginan untuk dianggap eksis atau kekinian.

Menurut penelitian yang dilansir dari salah satu portal berita, kondisi terburuk dari penggunaan media sosial yang berlebihan dapat mengganggu kesehatan mental yaitu depresi. Depresi ini bisa beragam penyebabnya seperti dari keinginan untuk memiliki banyak followers dengan mengunggah postingan di Instagram sekeren mungkin sehingga mengharap adanya banyak likes, sampai adanya kebiasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang dilihat melalui postingan media sosial. Hal ini dapat menimbulkan gambaran penilaian diri yang tidak sehat. Contoh lainnya adalah cyberbullying, hate speech, dan online harassment melalui media digital yang marak terjadi sampai menimbulkan pelanggaran moral dan etika yang terjadi di internet. Etika berkomentar di media sosial sering diabaikan dan dianggap sebagai kegagapan masyarakat pada dunia maya yang sebenarnya adalah wilayah publik.

Banyaknya beredar  bentuk informasi palsu (hoax), atau tentang permusuhan dengan orang lain hanya karena sebuah story di WhatsApp, sehingga memberi dampak terganggunya aspek psikososial termasuk depresi dan kecemasan baik pada pengguna usia remaja maupun dewasa. Penggunaan media sosial khususnya pada remaja memang harus mendapat  pengawasan penuh dari orangtua seperti membatasi penggunaannya, karena banyak penelitian yang menyatakan bahwa terlalu intens dalam menggunakan media sosial dapat mengarahkan mereka pada kondisi kesehatan mental yang buruk. Kondisi tersebut akan lebih mudah mempengaruhi kondisi psikologis mereka.

Teknologi Informasi khususnya media sosial sebenarnya banyak memberi kemudahan khususnya untuk menghubungkan komunikasi jarak jauh dengan para penggunanya, personal branding hingga pemasaran produk penjualan menjadikannya lebih efektif. Namun tentunya etika dalam menggunakan media sosial harus tetap diperhatikan selayaknya dalam kehidupan nyata, disamping maraknya tuntutan untuk melek teknologi dan kekinian menyita perhatian dan pekerjaan kita.

Di beberapa online game yang bersifat edukatif juga memberikan dampak seperti melatih kerjasama dan kemampuan otak dalam menyelesaikan permainan. Namun, ketika muncul kondisi fisiologis seperti haus, lapar, kebutuhan istirahat dan tidur  harus tetap  menjadi prioritas diri untuk diperhatikan. Tantangan kita untuk dapat menentukan prioritas hidup dan memiliki kendali di setiap aktivitas termasuk dalam penggunaan teknologi khususnya pada media sosial, menjadi kunci penting agar tidak merasa cemas atas pandangan “netizen” yang menganggap tidak kekinian atau tidak update.  Kehadiran teknologi yang makin memudahkan kita dalam memenuhi kebutuhan untuk bersosialisasi sebaiknya dapat dimanfaatkan secara bijak dan bukan dibiarkan mengambil alih penggunaan waktu yang sebenarnya kita perlukan untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Kondisi yang sangat memprihatinkan jika teknologi yang semestinya mendekatkan yang jauh, tapi justru menjauhkan yang dekat. Dalam hal inilah, psikologi bisa berperan sangat besar untuk menyadarkan dan mengantisipasi tantangan ini agar tidak menimbulkan permasalahan yang memburuk pada kondisi kejiwaan pengguna teknologi informasi saat ini hingga di masa mendatang.

 

Penulis :  Mihuandayani, S.Kom., M.Kom (Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan STMIK Multicom Bolaang Mongondow)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.