Daerah di Indonesia Ini Gunakan Bahasa Belanda

0
0
(foto google)

TNews, WISATA – Beberapa daerah di Indonesia punya ciri khas berupa bahasa. Tapi siapa sangka, kalau ternyata Depok juga punya.

Saat Indonesia masih menggunakan bahasa ibu sebagai komunikasi sehari-hari, warga di satu kawasan Depok bisa dibilang beda sendiri. Sebagian Depok amat Eropa, termasuk dalam penggunaan bahasa. Mereka berkomunikasi dengan bahasa Belanda dan tinggal di rumah dengan arsitektur Belanda.

Muhammad Isa, seorang pemilik rumah Belanda di Depok. Rumah tersebut dulunya milik tuan tanah Belanda, kemudian dijadikan rumah dinas saat pengambilalihan kekuasaan.

Ayah Isa adalah seorang kepala Polisi Depok. Ia sudah tinggal di sana sejak berumur 1 bulan, saat ayahnya dipindah tugas ke Depok.

Ayah dan ibu Isa pun mau tak mau jadi ikut berbahasa Belanda. Isa pun mengikuti kursus bahasa Belanda agar dapat berkomunikasi dengan lancar di Depok.

“Dulu orang Depok itu kalau ngobrol pakai bahasa Belanda. Karena di lingkungan ini adalah orang Belanda,” dia mengisahkan .

“Semua orang pakai bahasa Belanda, tukang delman sampai yang jualan di pinggir jalan juga pakai bahasa Belanda,” kata Isa.

“Semua yang di jalan (pedagang dan delman) itu bukan di panggil bapak, tapi om. Ini mengikuti budaya Belanda,” dia menambahkan.

Tak hanya itu saja, gaya hidup Depok juga sudah lebih maju dari daerah lain. Depok sudah seperti kampung Belanda.

“Daerah lain belum ada listrik, Depok sudah ada, yang pertama malah. Karena listrik Depok bukan dari PLN. Kebayoran masih gelap gulita, Depok sudah jadi kota,” ujarnya kemudian terkekeh.

Isa juga menuturkan kalau Depok juga lebih maju karena sudah memiliki telepon. Dia masih ingat betul bentuk telepon miliknya saat itu yang diputar tanpa nomor.

“Jadi nomor telepon rumah saya itu 2, iya cuma satu angka saja. Setelah diputar teleponnya, nanti akan tersambung ke operator dan disambungkan kembali ke nomor tujuan,” kata Isa.

Kalau kamu pernah mendengar soal bule Depok, itu benar adanya. Karena, mayoritas yang tinggal di Depok adalah tuan tanah, mereka membawa pegawai dari Ambon, Manado dan daerah-daerah lainnya.

Kawin campuran pun terjadi di Depok.

“Jadinya mukanya indo-indo gitu, karena campuran Belanda dan Indonesia,” katanya.

Kenangan ini menjadi bukti kuat bahwa Depok bukanlah daerah sembarangan. Rumahnya dulu menjadi tempat nongkrong orang-orang Depok.

Sayang, itu semua sudah berlalu. Kawasan hijau yang dulu jadi identitas Depok sudah hilang. Kini rumah-rumah peninggalan Belanda pun mulai sulit ditemukan. Maklum, perawatannya cukup mahal.

“Budaya Eropa muncul di sini lebih dulu dari daerah lain,” tutur Isa.

Isa mengaku masih bisa berbahasa Belanda, karena masih digunakan untuk berbicara dengan orang tuanya. Dirinya bahkan berkata bahwa orang tua yang tinggal di Jalan Pemuda tempat dirinya tinggal tersebut dipastikan masih fasih berbahasa Belanda.

“Tapi enggak tahu ya kalau cucu-cucunya yang kecil-kecil sekarang, mungkin sudah tidak bisa bahasa Belanda,” kata dia.

 

Sumber : detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.