Ini Kota Pertama di AS Yang Dipimpin Muslim

0
190
(foto google)

TNews, WISATA – Kota Hamtramck tiba-tiba membetot perhatian dunia. Kota multikultural di negara bagian Michigan yang menjadi kota pertama yang dipimpin muslim.

Berjalan menyusuri jalan utama di Hamtramck serasa seperti tur keliling dunia. Toko sosis Polandia dan toko roti Eropa Timur berada di samping toserba orang Yaman dan toko pakaian Bengali.

Keberagaman itu tampak betul dengan adanya sekitar 30 bahasa berbeda di dalam area seluas lima kilometer persegi.

Suasana itu ditegaskan dalam slogan kotanya “dunia dalam 2 mil (5km) persegi”.

Bulan ini, kota di kawasan Barat Tengah (Midwestern) dengan populasi 28 ribu orang itu mengukir sejarah. Hamtramck memilih dewan kota yang semua anggotanya muslim dan wali kota juga muslim. Hamtramck menjadi kota pertama di AS yang memiliki pemerintahan muslim-Amerika.

Setelah sempat mengalami diskriminasi, kini penduduk muslim di Hamtramck menjadi mayoritas dengan lebih dari separuh populasi. Warga muslim juga menjadi bagian integral dari kota multikultural itu.

Kini, sangat lumrah melihat etalase toko memajang tanda-tanda dalam bahasa Arab dan Bengali, pakaian Bangladesh yang disulam dan Jambiya, ataupun sejenis bilah melengkung pendek dari Yaman.

“Bukan hal yang aneh melihat beberapa orang dengan rok mini dan tato dan beberapa mengenakan burqa berjalan di jalan yang sama. Ini semua tentang kita,” kata Zlatan Sadikovic, seorang imigran Bosnia yang memiliki sebuah kafe di pusat kota Hamtramck.

Kota yang Dinamis

Terlepas dari tantangan ekonomi dan perdebatan budaya yang intens, penduduk di Hamtramck dari latar belakang agama dan budaya yang berbeda hidup berdampingan secara harmonis.

Kota ini menjadi studi kasus yang penting bagi masa depan AS yang semakin beragam. Hamtramck juga cukup dinamis. Atmosfer kota berganti-ganti.

Ya, Hamtracck tidak sejak dulu memiliki penduduk mayoritas muslim. Dulu, kota ini merupakan pemukim asal Jerman.

Berjarak sepelemparan batu di luar Kota Detroit, Hamtramck pernah menjadi bagian dari pusat industri otomotif Amerika, yang didominasi oleh pabrik General Motors yang melintasi perbatasannya dengan ‘Motor City’.

Selama abad ke-20, kota ini dikenal sebagai “Warsawa Kecil”, karena imigran Polandia berbondong-bondong masuk untuk pekerjaan kerah biru.

Kota ini merupakan salah satu perhentian tur AS Paus Yohanes Paulus II kelahiran Polandia pada tahun 1987. Pada tahun 1970, sebanyak 90% kota berasal dari Polandia.

Namun, pada dekade itu terjadi penurunan manufaktur mobil AS, dan orang Amerika Polandia yang lebih muda dan lebih kaya mulai pindah ke pinggiran kota.

Perubahan tersebut menjadikan Hamtramck salah satu kota termiskin di Michigan, tetapi keterjangkauannya menarik para imigran.

Selama 30 tahun terakhir, Hamtramck kembali bertransformasi, menjadi landasan bagi para imigran Arab dan Asia, terutama mereka yang berasal dari Yaman dan Bangladesh.

Sebagian besar penduduk kota saat ini, hingga 42%, lahir di luar negeri. Lebih dari setengahnya diyakini beragama Islam.

Susunan pemerintahan yang baru terpilih mencerminkan perubahan demografi di Hamtramck.

Dewan kota akan terdiri dari dua orang Bengali Amerika, tiga orang Yaman Amerika, dan seorang Polandia-Amerika yang masuk Islam.

Memenangkan 68% suara, Amer Ghalib akan menjadi wali kota Yaman-Amerika pertama di AS.

“Saya merasa terhormat dan bangga, tetapi saya tahu ini adalah tanggung jawab besar,” kata Ghalib, 41 tahun.

Lahir di sebuah desa di Yaman, ia pindah ke AS saat berusia 17 tahun, bekerja di pabrik pembuatan suku cadang mobil plastik di dekat Hamtramck.

Dia kemudian belajar bahasa Inggris dan menerima pelatihan medis, sekarang bekerja sebagai tenaga profesional kesehatan.

Anggota dewan kota terpilih Amanda Jazkowski menyebut alih-alih menjadi “panci peleburan” atau “mangkuk salad campuran”, istilah meleburnya orang dari berbagai negara, Hamtramck lebih seperti “kue tujuh lapis” dengan kelompok-kelompok yang berbeda mempertahankan budaya mereka yang berbeda sambil tetap hidup berdampingan satu sama lain.

“Masyarakat masih bangga dengan budayanya secara khusus, padahal kalau asimilasi, kami akan kehilangan keunikannya. Ketika Anda tinggal sedekat ini satu sama lain, Anda dipaksa untuk mengatasi perbedaan itu,” kata Jaczkowski, 29 tahun.

Tapi Hamtramck “bukan Disneyland”, kata Karen Majewski, wali kota yang akan genap menjabat selama 15 tahun sebelum pensiun.

“Ini hanya tempat kecil. Dan kami juga memiliki konflik,” dia menambahkan.

Gesekan muncul pada tahun 2004 yang kemudian dilakukan pemungutan suara tentang azan dengan pengeras suara ke luar.

Beberapa warga berpendapat bahwa larangan bar di dekat masjid merugikan ekonomi lokal.

Enam tahun lalu, ketika menjadi kota Amerika pertama yang memilih pemerintahan mayoritas muslim, pers dari seluruh dunia turun ke Hamtramck. Beberapa laporan media pada saat itu melukiskan gambaran kota yang “tegang” dengan masuknya umat Islam.

Seorang pembawa acara TV nasional bertanya apakah Majewski takut menjadi wali kota. Bahkan, ada spekulasi dari beberapa orang bahwa dewan kota yang dikontrol muslim mungkin akan memberlakukan hukum Syariah.

“Di Hamtramck, orang-orang keheranan akan pembicaraan semacam itu,” kata Majewski.

Dia bersyukur bahwa Hamtramck telah menjadi komunitas yang ramah, katanya, dan tempat “alamiah” bagi penduduk baru untuk memilih mereka yang memahami pengalaman dan bahasa mereka.

Hamtramck Contoh Bukan Zamannya Lagi Islamofobia

Dua puluh tahun setelah serangan 11 September, Islamofobia masih menghantui umat muslim dan etnis Arab Amerika.

Hampir setengah dari orang dewasa muslim-Amerika mengatakan mengalami beberapa bentuk diskriminasi. Itu ditambah kampanye Donald Trump dalam Pilpres yang mengusulkan larangan imigran dari negara-negara mayoritas muslim memasuki AS.

Para peneliti juga menemukan bahwa di antara semua kelompok agama, muslim masih menghadapi pandangan paling negatif dari publik Amerika. Para muslim menjadi sasaran prasangka.

Lebih dari separuh warga AS mengatakan tidak mengenal muslim. Bagi mereka yang dekat dengan umat muslim cenderung tidak berpikir bahwa Islam mendorong kekerasan kepada pemeluk agama lain.

Ketika Shahab Ahmed mencalonkan diri sebagai anggota dewan kota tak lama setelah serangan 11 September, dia menghadapi perjuangan yang berat.

“Ada selebaran di seluruh kota yang mengatakan saya pembajak ke-20 yang tidak berhasil mencapai pesawat,” kata orang Bengali Amerika itu.

Setelah dia kalah dalam pemilihan tahun 2001, Ahmed mengetuk pintu tetangga untuk memperkenalkan diri. Dia terpilih dua tahun kemudian, menjadi pejabat kota muslim pertama di Hamtramck. Sejak itu, dukungan untuk komunitas muslim tumbuh di kota tersebut.

Pada 2017, ketika pemerintahan Trump memberlakukan larangan masuk bagi pendatang dari sejumlah negara muslim, warga berkumpul untuk memprotes.

“Di satu sisi, itu memobilisasi dan menyatukan banyak orang karena semua orang tahu bahwa untuk tinggal di Hamtramck, Anda harus menghormati orang lain,” kata Razi Jafri, salah satu sutradara film dokumenter “Hamtramck, USA”.

Secara nasional, muslim Amerika juga menjadi lebih terlihat secara politis. Pada tahun 2007, kader Partai Demokrat Minnesotan Keith Ellison menjadi anggota kongres muslim pertama. Saat ini, Kongres AS memiliki empat anggota muslim.

Pada hari pemilihan Hamtramck bulan ini, puluhan warga berkumpul di depan tempat pemungutan suara untuk saling menyapa, banyak yang memamerkan suvenir Hari Pemilihan mereka, yaitu stiker “Saya memilih”.

Jaczkowski bilang para imigran sangat antusias untuk berpartisipasi dalam demokrasi.

“Ini adalah hal yang sangat Amerika untuk dapat menyatukan orang,” kata dia.

Bukan Disneyland, Debat Budaya dan Kemiskinan Juga Ada kok Hamtramck

Tetapi bukan berarti tidak pernah terjadi konflik di Hamtramck. Pada bulan Juni, ketika pemerintah kota menyetujui pengibaran bendera kebanggaan gay di depan balai kota, beberapa warga marah.

Beberapa bendera yang tergantung di luar bisnis pribadi dan rumah dirobohkan, termasuk satu di luar toko pakaian vintage di pusat kota milik Majewski.

“Itu mengirimkan pesan yang sangat mengkhawatirkan kepada orang-orang,” katanya.

Ganja juga menjadi sumber kontroversi. Pembukaan tiga apotek di Hamtramck memicu kecemasan dari beberapa komunitas muslim dan Katolik-Polandia.

Kemudian, warga lainnya prihatin dengan kurangnya partisipasi politik perempuan dalam komunitas muslim konservatif.

Seperti pada malam pemilihan, Ghalib sebagai wali kota terpilih, dikelilingi oleh kerumunan warga Yaman-Amerika yang gembira dalam pesta pascapemilihan, menyajikan baklava dan kebab. Lebih dari 100 pendukung ada di sana, semuanya laki-laki.

Perempuan berpartisipasi dalam kampanyenya, kata Ghalib, tetapi pemisahan jenis kelamin tetap tradisional, bahkan ketika ditantang oleh generasi muda yang telah menjadi lebih “Amerika”.

Hamtramck juga menghadapi tantangan yang sama dengan kota-kota kawasan Rust Belt, mulai dari infrastruktur yang rusak hingga peluang ekonomi yang terbatas. Rust Belt mencakup Indiana, Illinois, Michigan, Missouri, New York, Ohio, Pennsylvania, West Virginia, dan Wisconsin yang mengalami penurunan industri pada era 1980an.

Hujan lebat selama musim panas membanjiri selokan kota dan banyak rumah. Tingkat timbal yang tinggi ditemukan dalam sampel air minum kota, yang menarik perhatian nasional. Sudah begitu, hampir setengah dari penduduk kota berada di bawah garis kemiskinan.

Ini hanyalah beberapa dari masalah mendesak yang harus dihadapi oleh kepemimpinan kota yang baru.

“Seperti apa demokrasi di kota berpenduduk mayoritas muslim? Seperti di tempat lain, berantakan dan rumit,” kata pembuat film dokumenter Jafri.

“Jadi ketika muncul hal-hal yang tidak beres, perlu segera diatasi,” dia menambahkan.

 

Sumber : detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.