Trump Tangkap Maduro, Rakyat Venezuela Rayakan, Dunia Mengutuk

oleh -114 Dilihat
Gambar: Trump Tangkap Maduro, Rakyat Venezuela Rayakan, Dunia Mengutuk.

TNews, OPINI – Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump mengguncang tatanan politik global. Di luar Venezuela, mayoritas opini publik internasional, terutama di media sosial, mengutuk tindakan tersebut sebagai intervensi imperialis.

Dalih perang narkoba dianggap topeng, sementara tujuan sesungguhnya diyakini mengarah pada penguasaan cadangan minyak Venezuela.

Namun ironi muncul di dalam negeri Venezuela. Di jalan-jalan Caracas dan kota-kota lain, sebagian rakyat merayakan. Bagi mereka, peristiwa ini adalah akhir dari tirani panjang, krisis ekonomi akut, kelaparan, dan represi yang menghancurkan kehidupan sehari-hari. Di sini terlihat paradoks klasik: opini global berbicara soal kedaulatan, rakyat lokal berbicara soal keselamatan hidup.

Filsafat Politik: Kedaulatan vs Keselamatan Rakyat

Filsafat politik menempatkan kedaulatan negara sebagai prinsip tertinggi. Namun adagium tua menegaskan:
Salus Populi Suprema Lex Esto: keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.
Jika rezim sah secara konstitusional tetapi gagal menjamin hidup layak rakyatnya, apakah kedaulatan masih relevan? Sejarah menunjukkan, kekuasaan jarang runtuh karena tekanan luar semata. Ia jatuh ketika legitimasi internal mengering.

Budaya & Sosial: Luka yang Tak Terlihat dari Luar

Bagi sebagian dunia, Maduro simbol perlawanan terhadap dominasi AS. Bagi rakyat Venezuela, ia simbol hiperinflasi, layanan publik yang runtuh, dan eksodus jutaan warga. Euforia rakyat tak bisa dibaca hanya dengan kacamata moral global.

Intelijen & Realpolitik.

Tidak ada peristiwa geopolitik sebesar ini yang terjadi spontan. Agen intelijen membaca jauh sebelum kamera media menyala: fragmentasi elite, retaknya dukungan militer, psikologi massa. Dalam logika intelijen, menyelamatkan figur bukan prioritas; yang utama adalah mengamankan kepentingan negara dan meminimalisasi risiko.

China & Rusia: Diam Tapi Strategis

Meski Maduro telah bertemu bilateral dengan Beijing dan Moskow, kedua negara memilih diam. China melihat Venezuela sebagai aset ekonomi, bukan sekutu ideologis; kontrak dan investasi harus aman, figur boleh berganti. Rusia melihat Venezuela sebagai kartu diplomatik, bukan medan perang baru. Diamnya mereka adalah perhitungan strategis, bukan tanda kalah.

Belajar dari Indonesia 1998
Indonesia pasca-1998 menunjukkan bahwa rezim yang gagal menyejahterakan rakyat membuka pintu intervensi asing. Reformasi lahir karena krisis legitimasi, bukan tekanan eksternal. Pelajaran jelas: kesejahteraan rakyat adalah benteng kedaulatan.

Politik Bebas Aktif Indonesia: Mandiri Strategis

Bebas aktif berarti tidak tunduk blok kekuatan manapun, tetapi tetap aktif menjaga keadilan global. Indonesia belajar bahwa negara yang rakyatnya percaya akan negara tidak mudah dipecah atau diintervensi. Venezuela kaya sumber daya, tapi rapuh legitimasi; Indonesia pasca-1998 memilih jalur reformasi, stabilitas sosial, dan legitimasi elektoral, cukup untuk menjaga kedaulatan.

Penutup: Vox Populi “Suara Rakyat” di Atas Blok Kekuasaan

Kasus Venezuela mengajarkan: kedaulatan tanpa kesejahteraan hanyalah slogan kosong. Mengutuk intervensi asing sah, tetapi menutup mata terhadap penderitaan rakyat adalah kemunafikan politik. Sejarah mencatat bukan siapa paling lantang berbicara moral, tetapi siapa yang benar-benar berpihak pada rakyat.

Vox Populi, Vox Dei.
Ketika suara rakyat diabaikan, kekuasaan sekuat apa pun hanya menunggu waktu runtuh.

Vox Populi VD/Penulis Eksponen Pergerakan Mahasiswa 1998.*

OPINI Vox Populi VD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *