TNews, OPINI – Di zaman yang mengukur keberhasilan dari angka dan kemewahan, manusia semakin percaya bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang harus dikejar. Ukurannya menjadi jelas: gaji besar, jabatan tinggi, rumah megah, dan pengakuan sosial.
Media sosial memperkuat ilusi itu setiap hari seolah hidup yang bahagia adalah hidup yang terlihat berhasil.
Namun realitas kehidupan berkali-kali menunjukkan hal sebaliknya.
Kebahagiaan tidak selalu lahir dari kepemilikan. Ia sering tumbuh diam-diam dari kebermanfaatan.
Seorang ibu yang bangun sebelum subuh, menyiapkan kebutuhan keluarga tanpa pernah menuntut penghargaan, mungkin tidak terlihat istimewa di mata dunia. Namun di balik lelahnya, ada ketenangan yang tidak semua orang miliki. Ia tidak mengejar kebahagiaan, tetapi hidupnya bermakna karena memberi.
Seorang guru di pelosok desa tetap berjalan jauh setiap hari dengan penghasilan sederhana. Ia percaya bahwa ilmu adalah investasi masa depan manusia. Tidak ada kemewahan dalam hidupnya, tetapi ada kebahagiaan setiap kali seorang murid mulai memahami dunia.
Pedagang kecil yang tetap berbagi meski penghasilannya terbatas juga mengajarkan pelajaran yang sama: rasa cukup tidak lahir dari banyaknya harta, tetapi dari luasnya hati.
“Kebahagiaan sejati bukan ketika hidup terasa ringan, tetapi ketika hidup terasa berarti.” — Vox Populi VD
Kehidupan menjadi tenang bukan karena masalah hilang, tetapi karena manusia menemukan alasan mengapa ia harus tetap berjalan.
Namun kehidupan juga memperlihatkan sisi lain yang kontras. Kita menyaksikan bagaimana sebagian orang tampak bahagia melalui kekayaan instan dan kekuasaan. Kemewahan dipamerkan, keberhasilan dirayakan, dan dunia terlihat seolah berada dalam genggaman.
Tetapi ketika kekayaan dibangun di atas korupsi dan ketidakjujuran, kebahagiaan itu berubah menjadi ilusi. Banyak yang akhirnya kehilangan jabatan, kehormatan, bahkan kebebasan. Harta yang dahulu dibanggakan justru menjadi saksi bisu penyesalan di balik jeruji penjara.
Di titik itu, kehidupan berbicara dengan cara paling jujur: kesenangan dapat dibeli, tetapi ketenangan tidak.
“Harta yang diperoleh tanpa nurani sering berakhir tanpa kehormatan.” — Vox Populi VD
Perbandingan ini bukan sekadar kisah individu, tetapi cermin arah masyarakat. Ketika kekayaan dijadikan satu-satunya ukuran sukses, manusia mudah tergoda jalan pintas. Namun ketika kebermanfaatan menjadi nilai utama, integritas menemukan tempatnya.
Kita sering lelah karena terus bertanya, “Mengapa aku belum bahagia?”
Padahal pertanyaan yang lebih mendewasakan adalah, “Apakah hari ini aku sudah menjadi manfaat?”
“Manusia tidak kehilangan makna karena kekurangan harta, tetapi karena kehilangan tujuan memberi.” — Vox Populi VD
Kebahagiaan sejati tidak datang kepada mereka yang terus mengejarnya, melainkan kepada mereka yang menjalani hidup dengan kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian.
Pada akhirnya, manusia tidak dikenang karena apa yang berhasil ia kumpulkan, tetapi karena apa yang berhasil ia berikan.
Maka mungkin sudah waktunya kita mengubah orientasi hidup: berhenti menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan utama, dan mulai menjadikan kebermanfaatan sebagai jalan hidup.
“Saat manusia berhenti mengejar kebahagiaan untuk dirinya sendiri, di situlah Tuhan menghadirkan kedamaian yang sesungguhnya.” — Vox Populi VD
Sebuah refleksi religiusitas kehidupan dukungan moril buat kawan-kawan muslim yang sedang mempersiapkan diri menyambut bulan suci ramadhan 1447 Hijriah yang penuh berkah menunju “Insan Kamil”.*
Inspirasi Tulisan ini dipengaruhi oleh pemikiran tokoh pahlawan nasional dari Sulawesi Utara Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi. Yang mengaungkan filosofi.
“Si Tou Timou Tumou Tou” artinya Orang Hidup Untuk Menghidupkan (Membantu) Orang Lain
Vox Populi VD
Penulis: Jurnalis, S1 Teologi (Filsafat) STT Apostolos Jakarta, Eksponen Mahasiswa Pergerakan 98






