TNews, MANADO – Di antara puing bangunan dan wajah-wajah cemas warga, Ketua PWI Sulawesi Utara terpilih, Sintya Nidyah Christin Bojoh, terlihat berjalan menyusuri kawasan terdampak gempa yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara tepatnya di gedung KONI Manado. Tanpa banyak seremoni, kehadirannya menjadi bagian dari upaya melihat langsung kondisi di lapangan—bukan sekadar menerima laporan.
Gempa yang berpusat di perairan tersebut sempat memicu kepanikan di sejumlah daerah. Sejumlah rumah mengalami kerusakan, sementara korban jiwa dan luka-luka masih dalam pendataan. Di beberapa titik, warga tampak bertahan di luar rumah, memilih menjauh dari bangunan yang berisiko runtuh.
Di tengah suasana duka, Sintya menyempatkan diri berbincang dengan warga dan para wartawan yang sejak awal berada di lokasi. Percakapan berlangsung sederhana, tanpa jarak, seolah menjadi ruang berbagi antara mereka yang mengalami langsung dan mereka yang menyampaikan cerita ke publik.
Ia mengaku turut berduka atas korban yang meninggal dunia. “Kami mendoakan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, dan bagi korban luka semoga segera pulih,” ujarnya lirih.
Bagi Sintya, kehadiran pers di lokasi bencana bukan hanya soal kecepatan menyampaikan kabar. Ia menekankan pentingnya ketelitian dan tanggung jawab dalam setiap informasi yang disiarkan. Di tengah derasnya arus kabar yang belum tentu benar, ia mengingatkan agar wartawan tetap berpijak pada fakta.
Menurutnya, situasi bencana kerap menjadi ruang subur bagi munculnya informasi yang tidak terverifikasi. Hal itu, kata dia, justru dapat memperburuk keadaan psikologis masyarakat yang sudah terpukul.
“Pers punya peran penting, bukan hanya memberi tahu, tapi juga menenangkan. Informasi yang disampaikan harus akurat dan tidak memicu kepanikan baru,” tuturnya.
Di lapangan, para jurnalis tampak terus bekerja—mengirim laporan, mengambil gambar, dan mewawancarai warga. Di antara suara sirene dan aktivitas evakuasi, kerja jurnalistik tetap berjalan, beriringan dengan harapan agar kabar yang sampai ke publik benar-benar bisa dipercaya. (**)







