TNews, JAKARTA – Ketegangan global yang memicu penutupan Selat Hormuz membawa dampak serius bagi ketahanan energi Indonesia. Di tengah ancaman kelangkaan BBM dan tertahannya kapal tanker Pertamina, Rusia muncul dengan tawaran strategis yang mengejutkan sekaligus memberi harapan baru.
Kabar menggembirakan sekaligus mengejutkan datang dari Sergei Tolchenov, Duta Besar Rusia untuk Indonesia, yang menyatakan kesiapan negaranya untuk memasok minyak dan gas bagi Indonesia di tengah krisis energi global.
Pernyataan tersebut disampaikan Tolchenov dalam pertemuan di Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (1/4/2026). Ia menegaskan bahwa Rusia membuka pintu lebar bagi Indonesia untuk menjalin kerja sama strategis di sektor energi.
“Presiden kami telah berkali-kali menyampaikan, terutama bagi negara-negara sahabat, kami siap bekerja sama di bidang minyak dan gas apabila mereka membutuhkan sesuatu,” ujarnya tegas.
Situasi ini muncul di tengah ketidakpastian global akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang berujung pada penutupan Selat Hormuz—jalur vital yang selama ini dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.
Dampaknya langsung terasa bagi Indonesia. Dua kapal tanker milik Pertamina, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, dilaporkan masih tertahan di Teluk Arab tanpa izin melintas. Kondisi ini memicu kekhawatiran publik terhadap potensi kelangkaan dan lonjakan harga BBM di dalam negeri.
Dalam situasi darurat tersebut, pemerintahan Prabowo Subianto bergerak cepat mencari solusi alternatif. Salah satu titik terang datang dari hubungan diplomatik yang semakin erat dengan Rusia, terutama setelah pertemuan antara Prabowo dan Vladimir Putin di Kremlin pada Desember 2025 lalu.
Tolchenov bahkan secara terbuka mengajak Indonesia untuk segera mengambil langkah konkret.
“Silakan hubungi kami, sampaikan kebutuhan Anda, dan kita akan diskusikan bagaimana hal itu dapat diwujudkan,” tambahnya.
Menurutnya, Rusia tidak membatasi kerja sama hanya pada negara tertentu. Bahkan di tengah sanksi Barat, Rusia tetap membuka peluang bagi semua negara yang membutuhkan energi, termasuk negara-negara Eropa Barat.
“Ini pada dasarnya adalah persoalan kebutuhan. Kami tidak pernah menolak siapa pun,” tegas Tolchenov.
Peluang Strategis di Tengah Krisis
Tawaran Rusia dinilai sebagai peluang emas bagi Indonesia untuk mengamankan pasokan energi nasional di tengah krisis global. Selain sebagai solusi jangka pendek, kerja sama ini juga berpotensi memperkuat ketahanan energi dalam jangka panjang melalui kontrak strategis.
Hubungan bilateral Indonesia-Rusia sendiri tengah berada dalam fase harmonis. Tahun 2025 menjadi tonggak penting dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara, yang ditandai dengan penguatan kerja sama di berbagai sektor, mulai dari pertahanan, energi, hingga ekonomi.
Kedekatan personal antara Prabowo dan Putin diyakini menjadi faktor kunci yang membuka peluang besar ini.
Respons Pemerintah Ditunggu
Meski tawaran telah disampaikan secara terbuka, hingga kini belum ada langkah resmi dari Pertamina maupun Kementerian ESDM untuk menindaklanjuti peluang tersebut.
Tolchenov mengakui bahwa pihaknya masih menunggu komunikasi resmi dari Indonesia.
“Sebagai duta besar, saya belum menerima permintaan langsung. Tapi Kedutaan Besar Rusia terbuka untuk mendiskusikannya,” jelasnya.
Kini, publik menaruh harapan besar pada langkah cepat pemerintah. Di tengah kekhawatiran akan lonjakan harga BBM dan kebutuhan pokok, keputusan strategis dalam waktu dekat akan sangat menentukan stabilitas ekonomi nasional.
Kerja sama energi dengan Rusia bukan sekadar solusi darurat, tetapi juga simbol kuatnya arah baru diplomasi Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo. Pertanyaannya kini, akankah peluang ini segera dimanfaatkan, atau Indonesia masih akan bertaruh pada situasi global yang penuh ketidakpastian?*
Peliput: Petrus





